GORONTALO – Menjelang pelaksanaan Festival Karawo, Anggota DPRD Provinsi Gorontalo dari Daerah Pemilihan (Dapil) Boliyohuto, Syarifuddin Bano, turun langsung meninjau sentra pengrajin kain sulam karawo di Desa Bukit Aren, Kecamatan Pulubala.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung aktivitas para pengrajin sekaligus menyerap aspirasi terkait berbagai kendala yang dihadapi dalam mengembangkan kerajinan karawo.
Dalam kunjungannya, Syarifuddin melihat langsung proses pengerjaan kain karawo yang dilakukan secara manual oleh komunitas ibu-ibu di desa tersebut.
Ia mengapresiasi konsistensi para pengrajin yang selama puluhan tahun tetap mempertahankan keterampilan menyulam karawo sebagai bagian dari warisan budaya khas Gorontalo.
Menurut Syarifuddin, keberadaan pengrajin karawo memiliki nilai strategis, bukan hanya dalam konteks pelestarian budaya, tetapi juga sebagai potensi ekonomi masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian dan dukungan secara berkelanjutan.
“Ini adalah warisan budaya yang patut kita kembangkan bersama. Di tengah tantangan global dan modernisasi, masyarakat kita, khususnya komunitas ibu-ibu di Pulubala, masih mampu mempertahankan tradisi menjahit dan menganyam pola karawo secara manual, baik motif burung, ikan, maupun motif khas Gorontalo lainnya,” ujar politisi Partai Demokrat tersebut.
Pengrajin Masih Bergantung pada Vendor
Dalam dialog bersama para pengrajin, Syarifuddin menemukan sejumlah persoalan yang masih menjadi tantangan bagi komunitas karawo di Pulubala.
Salah satu persoalan yang disampaikan adalah ketergantungan pengrajin terhadap pihak ketiga atau vendor dalam memperoleh pesanan.
Padahal, menurut Syarifuddin, permintaan terhadap produk karawo cukup tinggi, termasuk pada momentum kegiatan seperti PENAS maupun berbagai kebutuhan yang berasal dari pemerintah.
Namun, tingginya permintaan tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan para pengrajin.
Upah yang diterima dinilai masih relatif rendah jika dibandingkan dengan tingkat kerumitan motif serta waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap pengerjaan karawo.
Para pengrajin menyampaikan, harga pengerjaan yang diberikan vendor berkisar antara Rp35 ribu, Rp50 ribu, Rp75 ribu hingga Rp100 ribu per pola, tergantung tingkat kerumitan motif.
“Metode pemasaran mereka selama ini belum bisa mandiri karena sifatnya hanya menerima barang dan diberi upah oleh vendor untuk menyelesaikan gambar yang ditentukan. Padahal, pengerjaannya rumit dan memakan waktu,” jelas Syarifuddin.
Dorong Pemerintah Beri Pendampingan
Melihat kondisi tersebut, Syarifuddin menilai perlu adanya intervensi dan perhatian lebih serius dari Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui organisasi perangkat daerah terkait, khususnya yang menangani sektor IKM dan UMKM.
Ia juga mendorong keterlibatan berbagai organisasi yang memiliki perhatian terhadap pemberdayaan masyarakat, termasuk Dharma Wanita, untuk memberikan pembinaan secara berkelanjutan kepada para pengrajin.
Menurutnya, pembinaan tidak cukup hanya menyentuh aspek keterampilan produksi. Para pengrajin juga perlu mendapatkan pendampingan dalam hal pemasaran, akses permodalan, pengembangan produk, penguatan kelembagaan, hingga perluasan akses pasar.
Dengan demikian, para pengrajin tidak hanya menjadi pihak yang mengerjakan pesanan dari vendor, tetapi dapat berkembang menjadi pelaku usaha yang memiliki produk, merek, serta pasar sendiri.
“Ke depan, hal ini harus dipikirkan bersama oleh pemerintah. Bagaimana para pengrajin karawo ini bisa mendapatkan bantuan langsung dan pemberdayaan yang layak, sehingga kesejahteraan mereka bisa meningkat sepadan dengan karya seni luar biasa yang mereka hasilkan,” pungkasnya.
Festival Karawo Jadi Momentum Penguatan Ekonomi Kreatif
Syarifuddin berharap momentum Festival Karawo dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memperkuat promosi dan pengembangan karawo sebagai identitas budaya Gorontalo sekaligus meningkatkan nilai ekonomi bagi masyarakat yang selama ini menjadi penjaga tradisi tersebut.
Ia menegaskan, pelestarian karawo harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan para pengrajinnya.
Dengan dukungan pemerintah, akses pasar yang lebih luas, serta pembinaan yang berkelanjutan, karawo diharapkan tidak hanya tetap lestari sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu berkembang menjadi salah satu kekuatan ekonomi kreatif Gorontalo.






Leave a Reply