GORONTALO – Upaya meningkatkan nilai ekonomi komoditas kelapa menjadi salah satu materi yang dibahas dalam kegiatan Temu Teknologi Pekan Nasional (PENAS) XVII Petani dan Nelayan Tahun 2026 di Aula Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi II. Melalui kegiatan tersebut, Balai Riset dan Modernisasi Perkebunan (BRMP) Tanaman Palma mendorong petani untuk tidak hanya menjual buah kelapa, tetapi juga mengembangkan produk olahan yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Pengawas Mutu Hasil Pertanian BRMP Tanaman Palma, Patrik Pasang, mengatakan pengolahan hasil kelapa menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mengurangi ketergantungan pada penjualan bahan baku.
“Tujuannya sebenarnya untuk memanfaatkan buah kelapa supaya ada nilai tambah yang bisa dinikmati petani. Sehingga petani tidak hanya tergantung di satu produk saja dan pendapatannya bisa bertambah,” ujar Patrik.
Dalam pemaparannya, Patrik memperkenalkan sejumlah teknologi pengolahan kelapa, termasuk pembuatan minyak kelapa dengan standar pengolahan yang lebih baik. Menurutnya, minyak kelapa yang diproduksi secara tradisional umumnya hanya mampu bertahan sekitar tiga bulan. Namun, dengan penerapan teknik pengolahan yang tepat, masa simpan produk dapat diperpanjang hingga satu tahun.
Selain daging buah, BRMP Tanaman Palma juga mendorong pemanfaatan hasil samping kelapa yang selama ini belum dimaksimalkan. Sabut, tempurung, hingga air kelapa dinilai masih memiliki potensi ekonomi yang besar apabila diolah menjadi berbagai produk turunan.
Patrik mengungkapkan, selama ini masih banyak bagian kelapa yang dibuang atau bahkan dibakar, padahal komponen tersebut dapat memberikan tambahan pendapatan bagi petani.
“Harapan kami petani bisa memanfaatkan hasil samping dari buah kelapa. Selama ini banyak yang hanya dibakar atau dibuang, padahal itu juga bisa menjadi sumber pendapatan,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui pengembangan industri olahan kelapa masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait ketersediaan peralatan dan sarana pendukung. Karena itu, dukungan pemerintah daerah maupun kementerian terkait dinilai penting untuk mempercepat pengembangan usaha hilirisasi di tingkat petani.
Patrik juga mengapresiasi tingginya antusiasme peserta selama kegiatan Temu Teknologi berlangsung. Menurutnya, semangat para petani untuk mempelajari teknologi pengolahan hasil perkebunan menjadi modal penting dalam mendorong lahirnya produk-produk bernilai tambah dari sektor kelapa.
Melalui PENAS XVII, BRMP Tanaman Palma berharap pengetahuan yang diperoleh para peserta dapat diterapkan di daerah masing-masing sehingga mampu meningkatkan kualitas produk, memperluas peluang usaha, dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan petani kelapa di Indonesia.
Coba versi berbeda
BRMP Tanaman Palma Ajak Petani Naik Kelas Lewat Hilirisasi Kelapa di PENAS XVII
GORONTALO, Hallo-Post.com – Komoditas kelapa dinilai masih menyimpan potensi ekonomi yang besar apabila tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah. Karena itu, Balai Riset dan Modernisasi Perkebunan (BRMP) Tanaman Palma mendorong petani untuk mulai mengembangkan produk olahan guna meningkatkan nilai tambah dan pendapatan.
Hal tersebut disampaikan Pengawas Mutu Hasil Pertanian BRMP Tanaman Palma, Patrik Pasang, dalam kegiatan Temu Teknologi pada rangkaian Pekan Nasional (PENAS) XVII Petani dan Nelayan Tahun 2026 yang berlangsung di Aula Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi II, Kabupaten Gorontalo.
Menurut Patrik, selama ini sebagian besar petani masih bergantung pada penjualan buah kelapa. Padahal, komoditas tersebut memiliki banyak peluang untuk diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Tujuannya sebenarnya untuk memanfaatkan buah kelapa supaya ada nilai tambah yang bisa dinikmati petani. Sehingga petani tidak hanya tergantung di satu produk saja dan pendapatannya bisa bertambah,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, peserta diperkenalkan dengan teknik pengolahan minyak kelapa yang sesuai standar. Patrik menjelaskan, penerapan proses pengolahan yang baik dapat meningkatkan kualitas produk sekaligus memperpanjang masa simpan minyak kelapa.
Jika minyak kelapa yang diolah secara tradisional umumnya hanya mampu bertahan sekitar tiga bulan, melalui metode yang tepat produk tersebut dapat disimpan hingga satu tahun tanpa mengalami penurunan kualitas yang signifikan.
Selain daging buah, BRMP Tanaman Palma juga mendorong pemanfaatan bagian lain dari kelapa yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Sabut, tempurung, hingga air kelapa disebut masih memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Menurut Patrik, masih banyak hasil samping kelapa yang berakhir menjadi limbah karena kurangnya pengetahuan dan keterbatasan sarana pengolahan di tingkat petani.
“Harapan kami petani bisa memanfaatkan hasil samping dari buah kelapa. Selama ini banyak yang hanya dibakar atau dibuang, padahal itu juga bisa menjadi sumber pendapatan,” katanya.
Ia mengakui pengembangan produk turunan kelapa masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait penyediaan peralatan dan teknologi pengolahan. Karena itu, diperlukan dukungan pemerintah daerah maupun kementerian terkait agar upaya hilirisasi komoditas kelapa dapat berjalan lebih optimal.
Patrik juga mengapresiasi tingginya antusiasme peserta selama kegiatan berlangsung. Menurutnya, semangat para petani untuk mempelajari teknologi pengolahan hasil perkebunan menjadi modal penting dalam mendorong lahirnya usaha-usaha baru berbasis kelapa di berbagai daerah.
Melalui Temu Teknologi PENAS XVII, BRMP Tanaman Palma berharap petani tidak hanya menjadi produsen bahan baku, tetapi mampu naik kelas menjadi pelaku usaha yang menghasilkan produk olahan bernilai tambah dan memiliki daya saing yang lebih tinggi.
Reporter : Ica






Leave a Reply