Gorontalo, 18 September 2026— Kepedulian terhadap pendidikan anak kembali diwujudkan melalui gerakan sosial “Satu Asa, Satu Juta Alat Tulis” yang diinisiasi oleh *Dompet Dhuafa Volunteer (DDV) Gorontalo bersama Dompet Dhuafa*. Mengangkat semangat *“Dari Gorontalo, Menyalakan Asa untuk Anak Indonesia”*, gerakan ini menjadi bentuk solidaritas masyarakat Gorontalo untuk mendukung anak-anak terdampak bencana di *Nusa Tenggara Timur (NTT)* agar tetap memiliki kesempatan untuk belajar dan melanjutkan aktivitas pendidikan di tengah situasi yang penuh keterbatasan.
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan penting yang harus tetap diperhatikan dalam situasi kebencanaan. Ketika bencana terjadi, anak-anak tidak hanya menghadapi kehilangan tempat tinggal maupun lingkungan yang aman, tetapi juga dapat mengalami gangguan terhadap aktivitas belajar mereka. Keterbatasan fasilitas dan perlengkapan sekolah menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapatkan perhatian bersama.
Berangkat dari kondisi tersebut, DDV Gorontalo bersama Dompet Dhuafa mengajak masyarakat untuk mengambil bagian melalui sesuatu yang sederhana, namun memiliki arti bagi keberlangsungan proses belajar anak-anak, yaitu *alat tulis dan perlengkapan belajar*. Melalui gerakan “Satu Asa, Satu Juta Alat Tulis”, masyarakat diajak untuk menyisihkan dan mengumpulkan perlengkapan belajar yang nantinya menjadi bagian dari dukungan bagi anak-anak terdampak bencana di NTT.
Gerakan ini berlangsung selama *tiga hari, 18–20 September 2026*, dan melibatkan berbagai unsur kepemudaan serta komunitas mahasiswa di Kota Gorontalo. Dalam pelaksanaannya, DDV Gorontalo tidak berjalan sendiri, melainkan menggandeng sejumlah organisasi dan komunitas, yaitu *Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (Senma FK UNG), HMPS Biologi, HMPS Pendidikan Biologi, HMI FIKOM, serta HMJ Bahasa Inggris Universitas Negeri Gorontalo*.
Keterlibatan berbagai komunitas tersebut menjadi bagian penting dalam gerakan ini. Kolaborasi lintas organisasi membuka ruang yang lebih luas bagi mahasiswa dan masyarakat untuk berkontribusi dalam aksi sosial. Setiap komunitas membawa semangat dan jejaringnya masing-masing untuk bersama-sama menyampaikan pesan bahwa kepedulian terhadap pendidikan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab satu pihak, tetapi merupakan tanggung jawab bersama.
Selama tiga hari pelaksanaan, gerakan ini menjadi ruang bagi masyarakat Gorontalo untuk berpartisipasi dalam pengumpulan dukungan berupa alat tulis dan perlengkapan belajar. Setiap sumbangan yang diberikan diharapkan dapat menjadi bagian dari perlengkapan yang membantu anak-anak terdampak bencana kembali menjalani kegiatan belajar dengan lebih baik.
Bagi sebagian orang, satu buku tulis, satu pensil, atau satu penghapus mungkin merupakan benda sederhana yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, bagi anak-anak yang berada dalam situasi pascabencana, perlengkapan tersebut dapat menjadi bagian dari proses mereka untuk kembali ke ruang belajar, menulis kembali cita-cita, dan mempertahankan semangat untuk terus tumbuh.
Koordinator DDV Kota Gorontalo, *Amanatun Azzizah A. Lahabu*, menyampaikan bahwa gerakan “Satu Asa, Satu Juta Alat Tulis” lahir dari keinginan untuk menghadirkan bentuk kepedulian yang dekat dengan kebutuhan anak-anak.
“Kami melihat bahwa pendidikan anak harus tetap menjadi perhatian, bahkan ketika mereka sedang berada dalam situasi sulit akibat bencana. Karena itu, melalui gerakan Satu Asa, Satu Juta Alat Tulis, kami ingin mengajak masyarakat Gorontalo untuk ikut mengambil bagian melalui sesuatu yang sederhana, yaitu berbagi alat tulis dan perlengkapan belajar. Bagi kami, satu alat tulis bukan hanya sebuah benda, tetapi menjadi simbol dukungan agar anak-anak tetap memiliki semangat untuk belajar dan melanjutkan cita-citanya,” ujar Amanatun.
Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat semangat kolaborasi di antara komunitas dan organisasi mahasiswa di Gorontalo. Kehadiran sejumlah komunitas dalam gerakan tersebut menunjukkan bahwa aksi sosial dapat dilakukan bersama dengan mengesampingkan perbedaan latar belakang organisasi.
“Kami sangat bersyukur karena gerakan ini mendapat dukungan dari teman-teman komunitas. Ada Senma FK UNG, HMPS Biologi, HMPS Pendidikan Biologi, HMI FIKOM, dan HMJ Bahasa Inggris UNG yang ikut berjalan bersama. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa ketika kita memiliki tujuan yang sama, banyak hal yang bisa kita lakukan bersama. Harapannya, gerakan ini tidak hanya memberikan manfaat bagi penerima, tetapi juga menumbuhkan rasa peduli dan kepedulian sosial di kalangan anak muda Gorontalo,” lanjutnya.
Azizah juga berharap masyarakat dapat melihat bahwa kontribusi dalam aksi kemanusiaan tidak selalu harus dalam bentuk yang besar. Menurutnya, kepedulian dapat dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan secara bersama-sama.
“Tidak semua orang mungkin bisa hadir langsung ke lokasi bencana. Tetapi setiap orang bisa mengambil peran dari tempatnya masing-masing. Ada yang berbagi alat tulis, ada yang membantu menyebarkan informasi, ada yang mengajak orang lain untuk berpartisipasi, dan ada yang menjadi relawan. Semua bentuk kontribusi tersebut memiliki arti ketika dilakukan bersama, tambahnya.
Selain menjadi gerakan pengumpulan alat tulis, rangkaian kegiatan ini juga menjadi bentuk edukasi kepada masyarakat bahwa kondisi pascabencana membutuhkan dukungan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan dan kesehatan. Oleh karena itu, kegiatan “Satu Asa, Satu Juta Alat Tulis” tidak berhenti pada aksi pengumpulan perlengkapan belajar.
Sebagai bagian dari rangkaian penutup, pada 20 September 2026, kegiatan akan dilanjutkan melalui *pemeriksaan kesehatan gratis dalam kegiatan Card Friday di Kota Gorontalo*. Pemeriksaan kesehatan tersebut menjadi bentuk keberlanjutan dari semangat berbagi yang dibangun selama tiga hari pelaksanaan.
Kegiatan penutup ini diharapkan dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan akses pemeriksaan kesehatan sekaligus menjadi momentum bagi para relawan dan komunitas yang terlibat untuk mempererat kolaborasi dalam aksi sosial. Dengan menggabungkan kepedulian terhadap pendidikan dan kesehatan, rangkaian kegiatan ini diharapkan dapat menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Bagi DDV Gorontalo, gerakan “Satu Asa, Satu Juta Alat Tulis” bukan sekadar kegiatan pengumpulan barang. Lebih dari itu, gerakan ini merupakan upaya untuk menghubungkan kepedulian masyarakat Gorontalo dengan kebutuhan anak-anak di daerah terdampak bencana. Dari jarak yang cukup jauh, masyarakat tetap dapat menunjukkan bahwa anak-anak yang sedang menghadapi situasi sulit tidak berjalan sendirian.
Semangat tersebut juga menjadi pesan utama yang ingin dibawa melalui gerakan ini: bahwa *setiap anak berhak memiliki kesempatan untuk belajar, bermimpi, dan membangun masa depan*, terlepas dari kondisi yang sedang mereka hadapi.
Melalui kolaborasi DDV Gorontalo, Dompet Dhuafa, organisasi mahasiswa, komunitas, relawan, dan masyarakat, satu per satu alat tulis dikumpulkan untuk kemudian menjadi bagian dari dukungan bagi anak-anak terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur.
Sebab, satu alat tulis mungkin hanya terlihat sebagai benda kecil. Namun ketika satu tangan bertemu dengan tangan lainnya, kepedulian tersebut dapat tumbuh menjadi gerakan yang lebih besar.
*Dari Gorontalo, satu alat tulis menjadi satu bentuk kepedulian. Dari satu kepedulian, tumbuh satu asa. Dan dari banyak asa yang disatukan, lahir harapan agar anak-anak Indonesia tetap dapat belajar dan menatap masa depan.*
Satu Asa, Satu Juta Alat Tulis.
Dari Gorontalo, Menyalakan Asa untuk Anak Indonesia.






Leave a Reply